Selasa, 05 November 2013

POLITIK 'TERBODOH' PARTAI BERLAMBANG KA'BAH

Saat ini kemenangan politik identik dengan banyaknya dukungan, semakin banyak pendukung bisa dikatakan kemenangan ada dipihaknya, begitu sebaliknya, semakin sedikit dukungan semakin kecil kemungkinan untuk menang dalam pemilu. Ada hal menarik dan juga terdengar agak aneh yang saya simak di hari Selasa tanggal 5 Nopember 2013 disudut kota Indramayu, sekitar ±40 km barat kota Indramayu, sekitar ±154 km arah timur kota Jakarta. Ada kegiatan yang disebut peringatan menyambut Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1435 H di daerah yang dihadiri tak kurang dari 20 ribu orang, yang menarik adalah keseragaman orang-orang yang datang dari seluruh pulau Jawa dan sebagian Sumatera ini mengenakan batik yang berwarna ‘Hijau’, karena penasaran penulis mencoba bertanya kepada beberapa orang yang datang mengapa seperti seragam datang mengenakan pakaian batik dan hijau pula warnanya, dari jawaban yang saya dengar, awalnya saya merasa hebat sekali pengaruh sebuah partai politik ini bagi mereka sampai jauh-jauh datang ke pelosok desa dengan jarak yang tak dekat dengan perjalanan yang lumayan lama sekita 6 jam dari Jakarta, 16 jam dari Jember, 10 jam dari Semarang dan sekitarnya, bahkan ada yang dari Jambi, Surabaya, Aceh, Medan dan juga Malaysia serta Singapura hanya untuk menyambut dan mendukung pimpinan partai politik yang mempunyai simbol warna hijau dengan lambang ka’bah ini. Awalnya penulis melihat persamaan warna yang dikenakan para pengunjung ini tidak ada kaitannya dengan sebuah warna di partai politik, tapi setelah penulis meyakinkan diri dengan bertanya kepada sekitar 10 orang yang datang, penulis sedikit tercengang, bagaimana bisa menseragamkan puluhan ribu orang dalam sebuah moment yang bahkan diluar negeripun tidak ada yang bisa seperti ini. Kemudian lebih jauh mereka bicara, pimpinan partai politik ini akan datang dan menyapa mereka semua, entah darimana datangnya berita ini, karena sampai acara berakhirpun sang pimpinan tidak kelihatan datang dan menyapa mereka. Yang paling membanggakan adalah tak ada sedikitpun bahasa keluhan yang keluar dari para pengunjung dengan ketidakhadiran yang ditunggu-tunggu ini, sungguh sebuah kedewasaan berpolitik yang mumpuni yang bisa dibanggakan di negeri ini. Yang penulis akan bahas adalah bagaimana seorang pemimpin partai politik yang terbilang tua dan besar di republik ini tidak bisa melihat ‘moment’ yang baik dalam rangka membesarkan partainya menuju kemenangan di pemilu mendatang dengan tidak hadirnya di perayaan ini. Sedangkan dari pantauan penulis, partai politik ini tidak punya perwakilan di DPR dari Dapil 8 yang meliputi Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon. Dengan demikian perayaan ini adalah moment terbaik yang bisa diambil dalam rangka pemenangan dan membentuk basis baru bagi kelangsungan partai dimasa mendatang. Sungguh politik ‘terbodoh’ yang penulis analisa dari sisi kepentingan sebuah partai politik yang sudah mulai ditinggalkan oleh publik seiring kemajuan informasi dan pendangkalan yang dilakukan banyak pihak yang tidak ingin partai politik yang berhaluan agama berkiprah di kancah perpolitikan nasional, dan ini bukan hanya di Indonesia, tapi sudah menjadi propaganda dibanyak negara. Mengherankan Secara kebetulan ditempat itu ada 3 orang caleg dari partai politik tersebut, 2 perempuan 1 laki-laki.Bahkan di entrance di pajang baliho ukuran besar salah satu caleg Dapil 8 Jawa Barat yang meliputi Kabupaten Indramayu, Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon. Sebenarnya ini adalah keuntungan yang sangat baik buat partai, entah apa alasannya dari sudut pandang ilmu politik manapun hal ini sangat mengherankan.Secara kasat mata 20 ribu orang yang berkumpul disudut kota Indramayu itu adalah pendukung mutlak bagi partai berlambang ka’bah ini, jadi si ketua tidak perlu mengkritisi DPT atau hal2 tekhnis yang menurut beliau merugikan partai, karena sudah terbentuk pendukung absolute buat partai yang menurut beberapa orang yang ditemui di perayaan itu akan dengan pasti memilih partai ini. Sekali lagi penulis merasa bangga kepada mereka yang jauh-jauh datang hanya ingin melihat dan mendengar sapaan dari ketua partai politik ‘hijau’ ini, tidak sedikit biaya dan kepentingan yang dikeluarkan dan ditinggalkan demi moment ini. Penulis semakin merasa yakin dengan kejadian ini partai berlambang ka’bah ini akan semakin jauh ditinggalkan oleh pendukungnya karena secara sengaja dengan alasan yang tak sebanding dengan kepentingan partai sang ketua tidak bisa melihat peluang yang baik dari moment yang langka ini. Kesimpulan Dari kejadian yang ada jelaslah bahwa ‘kebodohan’ politik seperti yang dilakukan sebuah partai yang berlambangkan ka’bah ini bisa menjadi faktor yang meluluhlantakkan kepecayaan publik kepada sebuah partai politik sekelas apapun partai itu. Maka siapapun akan sepakat apabila melihat langsung perhelatan ini bahwa dukungan yang diperlukan sebuah partai adalah dukungan yang diperlihatkan oleh para pengunjung peringatan 1 Muharram 1435 H yang sudah dilaksanakan dan akan selalu dilaksanakan di sebuah desa terpencil di sudut timur Indramayu yang jauh dari hiruk pikuk kota besar seperti Jakarta yang secara data adalah kota yang berpenduduk dengan pendidikan yang baik, tapi kita selalu mendengar banyak masalah yang timbul dari sana yang dilakukan orang-orang yang mengaku berpendidikan tinggi bahkan sangat tinggi. Semoga ‘kebodohan’ ini cukuplah menjadi pelajaran berharga buat kita semuanya, karena suara rakyat adalah suara Tuhan, apabila suara Tuhan diabaikan, selanjutnya kita akan menunggu apa yang akan terjadi.