Kamis, 17 Oktober 2013

NASEHAT BUAT ANAKKU

Sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam ke dalamnya. Bila engkau ingin selamat, agar jangan karam, layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama taqwa, isinya ialah iman dan layarnya ialah tawakkal kepada Allah. Jadilah dirimu senantiasa menyediakan diri untuk menerima nasehat, maka dirimu akan mendapat penjagaan dari Allah. Orang yang insyaf dan sadar setelah menerima nasehat orang lain, dia akan senantiasa menerima kemuliaan dari Allah juga. Orang yang merasa dirinya hina dan rendah dalam beribadah dan taat kepada Allah, tawadhu’ kepadaNya, dia akan lebih dekat dengan Allah dan selalu berusaha menghindarkan maksiat kepadaNya. Seandainya orang tuamu marah kepadamu (karena kesalahanmu), maka marahnya orang tua itu adakah bagaikan pupuk bagi tanam-tanaman.Jauhkanlah dirimu dari berhutang, karena sesungguhbya berhutang itu bisa menjadikan dirimu hina diwaktu siang dan gelisah diwaktu malam. Berharaplah selalu kepada Allah tentang sesuatu yang menyebabkan untuk tidak mendurhakai Allah. Takutlah kepada Allah dengan sebenar-benar takut, tentulah engkau akan lepas dari sifat keputus-asaan dari rahmatNya. Seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya karena tidak dipercayai orang, dan seorang yang telah bejat akhlaknya akan senantiasa banyak melamunkan hal-hal yang tidak benar. Ketahuilah, memindahkan batu besar dari tempatnya semula itu lebih mudah daripada memberi pengerian kepada yang tidak mengerti. Betapa beratnya mengangkat batu besar dan besi yang amat berta, tetapi akan lebih berat lagi daripada itu semua, adalah bilamana engkau mempunyai tetangga yang jahat. Janganlah sekali-kali engkau mengirmkan seseorang yang bodoh menjadi utusan. Maka bila tidak ada orang yang cerdas dan pintar, sebaiknya dirimu sendiri sajalah yang menjadi ututsan. Jauhila sifat dusta, sebab berdusta itu enak sekali mengerjakannya, bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit saja berdusta itu telah memberikan akibat yang berbahaya. Buat Anakku … Bila engkau menghadapi dua alternatif, menjenguk (takziah) orang mati ataukah menghadiri pesta perkawinan, maka hendaklah engkau memilih untuk melayat orang mati. Sebab melayat orang mati itu akan mengingatkanmu kepada kampung akhirat, sedangkan menghadiri pesta pernikahan itu hanya mengingatkan dirimu kepada kesenangan duniawi saja. Janganlah engkau makan sampai kenyang yang berlebihan, karena sesungguhnya makan yang terlalu kenyang itu alangkah lebih baiknya bila makanan itu diberikan kepada binatang saja.Janganlah engkau langsung menelan saja karena manisnya barang dan jangan langsung memuntahkan saja pahitnya barang. Karena yang manis itu belum tentu menimbulkan kesegaran, dan yang pahit itu belum tentu menimbulkan kegetiran.Makanlah makananmu bersama-sama dengan orang-orang yang taqwa dan musyawarahkanlah urusanmu dengan para alim ulama dengan cara memohon nasehat kepadanya. Bukanlah suatu kebaikan namanya bilamana engkau selalu mencari ilmu tetapi engkau tidak pernah mengamalkannya. Hal itu tak ubahnya bagaikan seorang yang mencari kayu bakar, setelah banyak terkumpul maka ia tidak kuat memikulnya padahal ia masih selalu menambahnya jua.Bila engkau ingin menemukan kawan sejati, maka ujilah terlebih dahulu dengan pura-pura membikin dia marah. Bilamana di dalam kemarahannya itu dia masih berusaha menginsyafkan atau menyadarkan kamu, maka bolehlah dia engkau ambil menjadi kawan. Bila tidak demikian, maka berhati-hatilah engkau terhadapnya. Bertutur katalah yang baik dan halus budi bahasamu serta manis wajahmu, karena engkau akan disukai orang melebihi sukanya seseorang terhadap orang lain yang pernah memberikan barang berharga. Bila engkau berteman, tempatkanlah dirimu padanya sebagai orang yang tidak mengharapkan sesuatu dari padanya. Namun biarkanlah dia yang mengharapkan sesuatu darimu. Jadikanlah dirimu dalam segala perilakumu sebagai orang yang tidak ingin menerima pujian atau mengharapkan sanjungan orang lain, karena motivasi riya itu menimbulkan cela.Usahakan agar mulutmu jangan mengeluarkan kata-kata yang busuk dan kotor serta kasar, karena engkau akan lebih selamat bila berdiam diri. Kalau berbicara, usahakanlah agar bicaramu mendatangkan kemanfaatan bagi orang lain. Dear Anakku … Janganlah engkau condong kepada urusan dunia dan hatimu selalu direpotkan dunia saja karena engkau diciptakan Allah bukanlah untuk dunia saja. Sesungguhnya tidak ada makhluk yang lebih hina dari pada orang yang terperdaya oleh dunia. Janganlah engkau mudah tertawa kalau bukan karena sesuatu yang menggelikan, engkau berjalan tanpa tujuan pasti, janganlah engkau menanyakan sesuatu yang tidak ada gunanya bagimu, janganlah menyia-nyiakan hartamu. Barang siapa yang penyayang tentu akan disayang, siapa pendiam akan selamat dari pada berkata yang mengandung racun, dan barangsiapa yang tidak bisa menahan lidahnya dari berkata kotor tentulah akan menyesal.Bergaullah engkau dengan orang alim dan orang berilmu. Perhatikanlah kata dan nasehatnya karena sesungguhnya sejuklah hati ini mendengarkan nasehatnya, hiduplah hati ini dengan cahaya hikmah dari mutiara kata-katanya bagaikan tanah yang subur tersiram air hujan.Ambillah harta dunia sekedar keperluanmu, dan nafkahkanlah yang selebihnya untuk bekal akhiratmu. Janganlah engkau tending dunia ini ke keranjang sampah karena nanti engkau akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain. Sebaliknya jangan engkau peluk dunia ini serta mereguk habis airnya karena sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka. Janganlah engkau berteman dengan orang pandir dan janganlah pula berteman dengan orang yang bermuka dua, karena akan membahayakanmu.Buat Anakku.....Semoga nasehat – nasehat dapat menjadi bekal berguna untuk kehidupanmu kelak, dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan lika liku tantangannya. Do’akan kedua orang tua agar selalu istiqamah dalam memberikan contok kepada-mu baik dalam bentuk ucapan, sikap, maupun tingkah laku. Karena bagiamanapun nasehat-nasehat sebaik atau sebagus apapun hanya kan menjadi sekedar nasehat, manakala orang tua-mu tidak mampu mengimbanginya dengan contoh yang sama dengan apa yang ada dalam nasehat-nasehat diatas. Dan selalu berdo’a kepada Allah SWT untuk keluarga dan keturunan kita agar selalu mendapatkan keberkahan hidup dalam menjalani setiap langkah hidup ini. Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS . Al-Furqan :74)